Rabu, 15 September 2010

Penemuan LNB Optikal oleh Global Invacom

Sebuah Revolusi Sistem Penerimaan Satelit


Inovasi atau Revolusi?
Penemuan LNB optikal oleh Global Invacom tak diragukan akan menjadi tonggak pengembangan yang hadir di era penerimaan satelit yang begitu revolusioner yang menghilangkan masalah terbesar yang dihadapi pada penerimaan langsung TV satelit: yaitu penghambatan sinyal atau kehilangan sinyal di kabel coax antara LNB dan receiver serta masalah yang berhubungan dengan penyaluran sinyal ke beberapa pengguna.
Pertama kami ingin mengingatkan Anda bagaimana cara kerja LNB standar: LNB menerima sinyal satelit dari fokus antena, mengubahnya menjadi rentang frekuensi yang berbeda dan menyalurkan sinyal ini ke tuner recever satelit melalui kabel coax. Karena rentang frekuensi ini dibatasi pada 950 hingga 2150 MHz, ada dua trik harus digunakan agar bisa menerima keseluruhan spektrum frekuensi satelit.

Yang      pertama        adalah polarisasi sinyal dan ini berupa polarisasi sinyal vertikal maupun horizontal. Polarisari sinyal sirkular (kiri dan kanan) juga digunakan namun pada skala yang lebih kecil. Tidak perlu begitu detil tentang polarisasi sirkular; untuk kegunaan artikel ini mereka diperlakukan dengan cara yang sama.
Kendali voltase 13V atau 18V yang dibawa oleh kabel coax ke LNB memerintahkan apakah polarisasi sinyal vertikal (13V) atau horizontal (18V) yang diterima oleh LNB. Yang kedua adalah kendali sinyal 22 kHz yang digunakan untuk berpindah antara band rendah dan tinggi. Band rendah mencakup frekuensi satelit dari 10,7 hingga 11,75 GHz, sedangkan band tinggi mencakup dari 11,8 hingga 12,75 GHz. Jika LNB “melihat” sinyal kendali 22 kHz dari receiver, maka LNB ini akan mengirim sinyal band tinggi melalui kabel coax ke tuner. Jika tidak ada sinyal 22 kHz, maka LNB akan beralih ke band rendah. Pada akhirnya terdapat empat skenario kemungkinan (vertikal atau horizontal pada band rendah atau vertikal atau horizontal pada band tinggi) namun hanya satu yang bisa digunakan pada satu saat. Jika ini adalah sistem antena satelit untuk satu pengguna saja, maka segalanya adalah baik dan aman. Namun ketika lebih dari satu pengguna yang menerima TV satelit dari antena yang sama, maka masalah pertama akan muncul. Jika, misalnya, pengguna “A” memerlukan LNB untuk beroperasi pada vertikal band rendah, maka orang lain pada sistem yang sama akan menerima sinyal yang sama dari vertikal band rendah juga; jumlah saluran yang tersedia akan terbatas. Pada kenyataannya, pengaturan seperti ini membuatnya benar-benar payah; tak seorang pun dari para pengguna itu akan menyenangi menonton TV.

Hingga saat ini, masalah jen is ini telah dapat ditanggulangi dengan menggunakan LNB yang memiliki hingga delapan keluaran tersendiri; masing-masing terpasang pada receiver yang bisa dioperasikan secara bebas, dan masing-masing pengguna mendapatkan band/polarisasi yang diinginkan.
Jika melibatkan lebih dari delapan pengguna, maka multiswitch akan memegang peranan. Dalam hal ini LNB Quattro dengan empat keluaran unik yang mencakup empat kombinasi band/polarisasi akan digunakan. Sinyal-sinyal ini selanjutnya akan disalurkan ke sebanyak pengguna yang memerlukan. Namun semuanya tidak sederhana. Seluruh kabel coax beserta berbagai    multiswitch    yang  digunakan untuk penyaluran sinyal berikut penghambatan sinyalnya yang tidak bisa diabaikan. Penghambatan sinyal yang berasosiasi dengan 8 hingga 10 keluaran masih bisa dipertimbangkan tidak mengganggu.

Namun dengan 20, 30 atau bahkan 40 keluaran, masalah penghambatan sinyal akan menjadi cukup signifikan.Di sinilah kehadiran LNB optikal diperlukan. Stacker yang terpasang di dalam LNB mengkonversi empat kombinasi band/polarisasi menjadi rentang frekuensi yang berbeda antara 0,95 dan 5,45 GHz. Selanjutnya, sinyal RF dikonversi menjadi sinyal digital dan ditransmisikan oleh laser via kabel serat optik. Sehingga namanya LNB optikal. Di ujung lain dari kabel serat optik ini, pancaran sinar masuk ke kotak converter yang disebut GTU (Gateway Termination Unit) yaitu mengkonversi kembali ke sinyal yang bisa dikenal oleh receiver satelit standar. GTU dari Global Invacom ini tersedia dalam versi Twin, Quattro atau Quad. Jika versi Twin dan Quad dihubungkan langsung ke receiver, masing-masing keluaran versi Quattro menyalurkan salah satu dari empat band/polarisasi dan biasanya diintegrasikan dengan multiswitch yang sudah ada.

Hal ini berarti bahwa satu kabel serat optik dapat membawa keseluruhan rentang frekuensi satelit. Hanya diperlukan kabel serat optik setebal 3mm yang dibentang dari LNB optikal. Karena pencaran sinar laser mengandung keseluruhan spektrum frekuensi satelit, memungkinkan untuk menghubungkan sebanyak mungkin receiver yang diperlukan untuk dioperasikan secara bebas - semuanya dari satu kabel serat optik. Bahkan, misalnya, jika keseluruhan bangunan apartemen yang besar perlu disalurkan dengan  sinyal satelit, maka LNB  optikal membawa sejumlah kemungkinan. Dari titik ini maka hanya diperlukan membentang satu kabel serat optik dari LNB ke titik pusat distribusi. Selanjutnya dipisahkan menjadi beberapa kabel serat optik dengan satu bentangan kabel untuk setiap lantai bangunan apartemen. Pada setiap lantai kabel tersebut dipisahkan lebih lanjut dan disalurkan ke masing-masing apartemen.

Pengguna akhir selanjutnya tidak saja bisa menghubungkan ke hanya satu receiver, tetapi, contohnya, bisa dengan mudah menghubungkan ke PVR Tuner kembar di ruang tengah, receiver lain di kamar anak dan yang lainnya di kamar tidur. Jika menggunakan kabel coax  standar, masing-masing apartemen memerlukan empat kabel coax dari multiswitch untuk bisa memenuhi kebutuhan yang sama. Tidak sulit untuk mengetahui sejumlah potensi yang dimiliki LNB optikal. Yaitu menyederhanakan dan mengurangi biaya instalasi untuk sistem penerimaan satelit yang lebih besar. LNB ini juga membawa kemungkinan baru bahkan untuk pengguna perorangan. Kita semua tahu masalah ini: ketika merencanakan sistem satelit beberapa tahun yang lalu, siapa yang menduga akan hadirnya PVR tuner kembar? Kebanyakan dari sistem ini hanya menyertakan satu kabel sinyal dan dalam banyak kasus tidak tersedia tempat untuk memasang kabel tambahan.

Hingga saat ini, Anda bisa memanfaatkan fungsi stacker atau fitur loop-through pada receiver. Namun di masa mendatang Anda cukup mengganti kabel yang ada dengan kabel serat optik sehingga empat atau lebih receiver bisa digunakan pada saat yang bersamaan dan masing-masing dapat dioperasikan tersendiri.
Instalasi LNB optikal agak lebih besar dari LNB standar dan lebih panjang. Tidak mengagetkan  keseluruhan  elektronik yang diperlukan untuk mengkonversi sinyal optikal harus muat di dalamnya. Di bagian bawah LNB terdapat dua konektor, keluaran optikal untuk kabel serat optik .dan juga sebuah konektor “F”. Konektor “F” ini tidak digunakan untuk transmisi sinyal; akan tetapi digunakan sebagai konektor catu-daya untuk LNB karena tidak ada catu-daya yang dibawa oleh kabel serat optik.
Global Invacom memilih konektor “F” untuk alasan yang tepat. Ya, konektor catu daya biasa bisa digunakan, tetapi  untuk apa  menggunakan ini jika kabel coax telah tersedia? Sebagian besar sistem yang sudah ada akan dikonversi menggunakan LNB optikal dan untuk alasan inilah koneltor “F” cukup masuk akal. Kabel coax yang ada dapat dipasangkan pada konektor “F” di LNB; ujung lain dari kabel coax dihubungkan ke catu-daya yang disertakan. Maka kabel coax menjadi kabel catu-daya untuk LNB.

Tidak seperti kabel coax yang relatif tidak sensitif terhadap akumulasi kotoran, kebersihan kabel serat optik lebih kritis. Masalah bukan pada kabel itu sendiri - tetapi pada selubung logam yang membantu kabel agar tidak bengkok, terpelintir atau berubah bentuk - namun dengan konektor tersebut diperlukan kebersihan yang ekstrim.
Kabel serat optik tidak lagi mahal dibandingkan dengan kabel coax berkualitas bagus. LNB optikal secara praktis identik dengan model LNB standar; bahkan penyaluran catu daya melalui kabel coax akan menjadi patokan. Tidak hanya itu, kabel serat optik dapat digunakan di mana saja; tidak peduli apakah ditempatkan di dekat jalur bertegangan tinggi atau bahkan motor elektrik bertenaga besar.
Keuntungan penting lainnya dari teknologi serat optik adalah tahan sepenuhnya terhadap interferensi elektromagnetik. Kabel serat optik dapat ditempatkan dekat dengan wilayah elektrik yang kuat tanpa masalah sama sekali.

Hasil yang diberikan oleh LNB optikal begitu mengesankan,    bahwa    LNB   standar dengan noise figure 0.3 dB serta kabel coax 50m tidak bisa menyainginya. Menurut pabrikan, pemisahan kabel serat optik saat ini dibatasi hingga 32 keluaran. Pembatasan ini hadir karena kekuatan sinyal laser. Untuk aplikasi khusus, Global Invacom bisa menghasilkan sinyal laser yang lebih kuat sehingga jumlah keluaran bisa ditingkatkan jika diperlukan. Penghambatan sinyal yang sangat kecil melalui kabel serat optik yaitu 0.3 db pada 1000 meter.

Aplikasi LNB Optikal
 
Jika ide Global Invacom ditangkap,        maka        tidak    konsumen yang menerima sinyal DVB-T melalui kabel coax dengan adanya adaptor khusus, kabel serat optik juga bisa digunakan di sini.
Keuntungan LNB Optikal Keuntungan     terbesar pada LNB optikal adalah bahwa keseluruhan empat kombinasi band/polarisasi dapat ditransmisikan melalui satu kabel pada saat yang bersamaan.         Yang     juga membawa  keuntungan bahwa sinyal bisa dipisahkan sesering diperlukan dan bahwa setiap keluaran dapat dioperasi secara terpisah. Jarak yang sangat jauh yang bisa dilalui kabel serat optik tanpa penghambatan sinyal merupakan bonus besar.
Kabel serat optik berukuran kecil dan dengan mudah dimasukkan dalam ductwork. Karena kehilangan sinyal yang sangat kecil, kabel ini pada bentangan    panjang    secara signifikan lebih baik daripada kabel coax dalam hal kualitas sinyal.
Dengan sinyal yang lemah, hal ini bisa secara mudah menjadi perbedaan antara menerima sinyal dan tidak menerimanya. Jarak beberapa kilometer dapat dibentang tanpa kehilangan sinyal yang signifikan; Global Invacom telah melakukan uji lapangan untuk hal ini.

Pandangan untuk masa depan

Berapa biaya untuk beralih ke sistem optikal? Dalam banyak kasus, penerapan LNB optikal sebenarnya membuat penghematan biaya karena pemasangan sistem untuk beberapa pengguna sekarang bisa dihitung dengan cara berbeda dari sebelumnya.

Bagi Global Invacom pengenalan pasar untuk LNB optikal hanyalah yang pertama dari banyak langkah besar. Untuk saat ini sinyal menempuh jalur dari LNB ke kotak converter melalui kabel serat optik tetapi sisa jarak pendek ke tuner masih tetap menggunakan kabel coax.
Untuk alasan ini Global Invacom telah melakukan komunikasi dengan pabrikan tuner untuk ide memadukan teknologi serat optik secara langsung ke receiver. Bagi pengguna akhir hal ini berarti bahwa tidak diperlukan lagi kotak converter dan bahwa sinyal dapat dibawa secara digital langsung menuju chipset dalam receiver.
Sebagaimana     yang diharapkan,  Global  Invacom   bahkan sedang memikirkan lebih jauh dan telah memiliki teknologi untuk membawa tidak saja sinyal satelit tetapi juga telepon, Internet dan layanan jaringan lokal.
Hal ini berarti bahwa T V, receiver, komputer, telepon, dsb, tidak saja dilayani oleh satu kabel, tetapi bahwa seluruh perangkat ini dapat saling berkomunikasi melalui kabel serat optik.
Pengendalian    seluruh perangkat ini sekarang menempati arti baru. LNB optikal harus membuktikan menjadi pesaing yang sulit bagi sistem kabel coax klasik.  

Sumber: telesatellite

Senin, 06 September 2010

Mengenal parabola


Mengenal Parabola
Antena Parabola adalah seperangkat alat yang digunakan untuk komunikasi data, menerima siaran radio dan televisi digital atau DVB (Digital  Video Broadcasting). Dalam bahasan ini difokuskan pada sistem penerimaan TV digital satelit.
Untuk dapat menerima siaran televisi satelit maka kita membutuhkan berbagai peralatan utama sebagai berikut: 
1. Dish
Adalah piringan dengan lengkung parabola yang berfungsi memantulkan sinyal satelit yang diterima ke titik pusat atau fokus . Sinyal yang datang dari satelit sangat lemah karena jarak yang sangat jauh (22.300 mil).
Frekuensi sinyal satelit DVB yang digunakan adalah pada rentang 3,7-4,2 Ghz (C-band), 10,7-12,75 Ghz (Ku-band), dan L-band. 
Sinyal satelit yang sampai di permukaan bumi membentuk pola daerah cakupan yang disebut dengan footprint. Footprint tiap satelit berbeda-beda dan memiliki kekuatan sinyal yang berbeda-beda pula. Ukuran atau satuan yang digunakan untuk merefleksikan kekuatan sinyal (EIRP-effective irradiates power) tersebut adalah dBw (decibel watts) .
Jika suatu daerah tercakup dalam daerah footprint frekuensi suatu satelit maka secara teoritis didaerah tersebut dapat menerima siaran satelit. 
Dish dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu prime focus, off-center/offset dish dan cassegrain. Material dish adalah logam yang dapat memantulkan sinyal elektromagnetik, di pasaran jenisnya ada dua macam yaitu mesh (jala aluminum) dan solid (fiber-aluminum, baja tipis, dan lain-lain). 
Penguatan siyal yang didapat dari dish bergantung dari ukuran dan tingkat efisiensi. Semakin besar ukuran dish maka semakin besar pula penguatan sinyalnya. Sedangkan tingkat efesiensi bergantung pada bahan, konstruksi, dan lokasi . Sebagai contoh penggunaan dish mesh efektif pada C-band namun sebaliknya kurang efektif pada Ku-band.
Dipasaran, dish yang banyak tersedia untuk penerimaan siaran khususnya FTA (free to air) berjenis mesh dan solid dengan ukuran 6-12 feet, dengan rentang kisaran Rp 250 ribu-2 juta tergantung merk, jenis, dan ukuran. Ukuran yang lebih kecil (dibawah 6 feet) bayak digunakan oleh penyedia siaran televisi berbayar yang  menggunakan frekuensi non C-band semisal Indovision, Aora, dan Astro.
2. LNB
Titik fokus parabola itu ditempatkan sebuah alat  yang disebut feedhorn. Feedhorn ini pada dasarnya adalah Waveguide yang mengumpulkan sinyal-sinyal pada atau dekat titik fokus dan meneruskan (downconverter)  pada LNB (Low Noise Block). LNB mengubah sinyal elektromagnetik /radio  pada rentang frekuensi C-band /K u-band/S-band ke frekuensi 950-1450MHz yang dapat diterima oleh DVB receiver. 
Menurut jenis gelombangnya LNB dapat digolongkan menjadi LNB linear dan LNB Circular. Di Indonesia secara umum menggunakan LNB Linear karena footprint satelit yang dapat diterima menggunakan sinyal linear. LNB linear dapat dimodifikasi menjadi LNB Circular dengan memasangkan sekat dielektrik pada mulut LNB untuk menerima satelit yang menggunakan sinyal circular seperti penerimaan Satelit Yamal 202.
LNB yang tersedia di pasaran sangat beragam tergantung kualitas dan fitur yang ditawarkan dengan rentang yang berbeda antara Rp 50.000 – 450.000. Kualitas LNB biasanya ditentukan oleh gain dan noise, sedang berbagi fiturnya antara lain single output, double output, quad output, combo C-Ku, free interference LNB dan sebagainya.
3. Receiver
Receiver adalah alat yang digunakan untuk merubah sinyal dari LNB lewat kabel dan merubahnya menjadi sinyal gambar dan suara yang bisa disambungkan ke televisi. Receiver yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah receiver untuk menerima siaran bebas bayar /FTA (free to air). Sisanya adalah receiver plus dekoder yang disediakan oleh provider siaran berbayar dan umumnya dengan sistem pinjam.
Bagi para hobbiist umumnya menggunakan receiver yang lebih canggih, misalnya receiver yang menggunakan slot kartu langganan berbayar (CA-CI), receiver yang dapat  dipairing dan programmable via komputer, dan receiver canggih lainnya.
Pengguna komputer juga dapat menerima siaran televisi datelit dengan menambahkan DVB card baik PCI maupun USB.

Peralatan di atas adalah perangkat utama untuk dapat menerima sistem televisi satelit. Kualitas gambar yang didapat sangat bagus setara DVD serta bebas noise (semut) bahkan untuk standar penyiaran mulai bergeser ke HDTV. Channel siaran yang didapat bergantung kepada provider yang menyewa transponder satelit dan kualitas peralatan parabola yang dimiliki. Dish bagus dan besar yang didukung dengan LNB yang bagus akan menerima channel yang lebih banyak pada satelit dengan kualitas sinyal yang kecil.
Para pengguna parabola di Indonesia sebagian besar menggunakan sistem parabola fix/tetap untuk menerima siaran dari satelit Palapa dan Indosat. Pemasangan LNB yang dijajar sampai 4 LNB marak digunakan untuk menangkap lebih banyak channel di satelit Asiasat 2 dan 5. Sistem parabola gerak dapat menangkap siaran lebih banyak lagi karena dapat menangkap sinyal lebih dari 10 satelit.
Pelanggan siaran berbayar semisal Indovision, Aora dan Telkomvision walaupun dengan dish tetap namun memperoleh channel siaran yang lebih banyak karena siaran berbayar berisi paket channel yang sangat beragan dan memiliki sistem acak yang tidak dapat dibuka dengan receiver biasa (Free To Air – FTA Receiver)
Ingin tahu lebih banyak? Tunggu postingan berikutnya…